,


           SUKOHARJO (KRjogja.com) - Pengelolaan aset SMA/SMK di Sukoharjo sudah diserahkan ke pihak Provinsi Jawa Tengah per 1 Oktober tahun 2016. Sedangkan untuk keuangan baru akan dijalankan mulai Januari tahun 2017 mendatang.

           Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sukoharjo Darno, Minggu (2/10/2016) mengatakan, secara de jure pengelolaan SMA/SMK di Sukoharjo per 1 Oktober sudah menjadi kewenangan Provinsi Jawa Tengah. Pengelolaan tersebut seperti dari sumber daya manusia (SDM), sarana dan prasarana, aset dan lainnya sekarang sudah diserahkan ke provinsi.

           Sekolah tingkat SMA/SMK per 3 Oktober saat aktifitas belajar mengajar mulai dilaksanakan pada awal bulan sudah dikelola provinsi. Sedangkan secara de facto pengelolaan kewenangan SMA/SMK di Sukoharjo baru akan ditangani provinsi mulai 1 Januari 2017. Hal itu lebih lama dibanding pengambilalihan kewenangan pengelolaan untuk SDM, sarana dan prasarana, aset dan lainnya.

          “Secara de jure semua sudah dikelola provinsi. Cuma soal keuangan baru diserahkan pada Januari karena tahun anggaran sekarang sudah berjalan dan menunggu tahun anggaran baru 2017,” ujar Darno.

           Disdik Sukoharjo menaati aturan seperti yang ditentukan oleh pemerintah pusat. Darno menambahkan, posisi sekarang memang masih ada persoalan di Mahkamah Konstitusi (MK) terkait gugatan pengambilalihan kewenangan pengelolaan dari daerah ke provinsi masih berjalan.

           “Masalah peninjauan di MK itu tetap jalan. Sedangkan proses pengambilalihan kewenangan juga jalan. Perkara nanti bagaimana hasil proses hukumnya di MK mungkin bisa menyusul,” lanjutnya. (Mam)

    Sumber : http://www.krjogja.com/web/news/read/11358/Akhirnya_SMA_dan_SMK_di_Sukoharjo_Resmi_Dikelola_Provinsi

    ,


           SUKOHARJO – Aliran air dari Dam Colo ke Colo Barat dan Timur resmi ditutup mulai 1-31 Oktober mendatang. Jika tahun-tahun sebelumnya penutupan ini dirasakan sangat berdampak pada pertanian, untuk tahun ini diprediksi dampaknya tidak besar. Sebab, sementara ini masih sering terjadi hujan sehingga kebutuhan air di sawah masih terpenuhi.

           Ketua Paguyuban Petani Pengguna Air (P3A) Dam Colo Timur Jigong Sarjanto mengatakan, penutupan pintu Dam Colo Timur sudah menjadi agenda rutin. Dia mengatakan, beberapa waktu lalu ada pertemuan tim koordinasi pengelolaan sumber daya air Bengawan Solo (TKPSDABS) tentang penutupan itu. ”Penutupan tahun ini tidak akan berdampak besar untuk petani, berbeda dengan tahun lalu. Sebab, tahun ini terjadi kemarau basah, sementara tahun lalu kemarau terjadi seperti biasa,” ujar Jigong.

         Dikatakan, air untuk pertanian di wilayah Sukoharjo sementara ini masih mecukupi. Terlebih, di Sukoharjo banyak sumber alternatif, seperti dari sungai dan sumur patek. ”Kalau Sukoharjo biasanya tidak begitu terpengaruh dengan penutupan. Khusus di Colo Timur, terdapat 25.056 hektare di enam kabupaten yang dialiri,” ujarnya.

           Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah warga memanfaatkan penutupan dam itu dengan mencari ikan. Mereka membawa jaring dan peralatan lain untuk menangkap ikan. Adapun air yang berasal dari waduk dialirkan ke Bengawan Solo. Di penampungan Bendung Colo, begitu air menyusut nampak ketebalan sedimen yang ada di sana.

    Cuaca

         Kepala Seksi Pemeliharaan dan Operasional BBWSBS Solo Antonius Suryono saat dihubungi mengatakan, penutupam aliran Dam Colo seperti biasanya dimanfaatkan untuk perbaikan saluran irigasi yang rusak. Hanya karena cuaca yang tidak menentu dimungkinkan perbaikan tidak bisa maksimal. ”Secara teknis temanteman di lapangan yang bisa menjawab untuk perbaikan saat cuaca tidak menentu ini. Tetapi kalau memang terjadi hujan tidak mungkin bisa maksimal,” jelas Antonius. Hanya untuk perbaikan-perbaikan yang sifatnya ringan, nanti bisa disiasati dengan penggunaan pompa. (H46-85)

    Sumber : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/aliran-dam-colo-resmi-ditutup/

    ,

    DI TANAMI KEDELAI: Tanaman kedelai milik petani di Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo.(suaramerdeka.com/Asep Abdullah)
           SUKOHARJO – Dinas Pertanian (Dispertan) Sukoharjo mengklaim, hasil penen kedelai di Kecamatan Weru mencapai 2,4 ton lebih. Meskipun tahun ini, petani harus berhadapan dengan kemarau basah.

          Kepala Dispertan Sukoharjo, Netty Harjanti mengungkapkan, hampir mayoritas petani sudah melakukan panen di wilayah yang menjadi pusat pembibitan kedelai saat kemarau. Yakni di Kecamatan Weru. Dia mencatat, ada sebanyak 2,4 ton lebih kedelai kering yang dihasilkan petani. Meskipun petani harus berhadapan dengan kemarau basah.“Petani cerdik dalam menyikapi musim. Buktinya menghasilkan 2,4 ton. Petani panen sejak Agustus-September,” ungkapnya, Minggu (2/10).

          Lebih jelas Netty melanjutkan, di Kecamatan Weru ada seluas 900 hektare petani yang menanam kedelai. Hanya saja, untuk tahun ini, tidak semuanya menanam tanaman tersebut. Pasalnya kemarau yang terjadi pada April-September, ternyata lebih banyak terjadi hujan. Sehingga petani ada yang tetap menanam padi.”Hasilnya masih stabil dibandingkan dengan tahun lalu. Karena bisa mencapai angka 2,4 ton. Padahal kan saat akan panen, hujan terus mengguyur pada bulan kemarin,” tutur dia.

           Dia menambahkan, hanya saja petani kedelai kesulitan dalam memanen. Pasalnya pengeringan hasil tanaman kedelai, harus dilakukan dua kali. Mengingat volume air yang dihasilkan, cukup melimpah saat menjelang panen. Apalagi intensitas hujan cukup tinggi pada beberapa minggu kemarin. Dia juga mengklaim harga kedelai mencapai Rp 7.000,-/ kg.“Cuma pengeringan yang harus ekstra. Ini yang jadi kendala saat kemarau basah. Karena sempat terganggu hujan terus menerus,” paparnya.

    (Asep Abdullah/CN40/SM Network)

    , ,


           SURAKARTA -- Ribuan warga antusias mengikuti kirab 1 Suro yang digelar oleh Keraton Kasunanan Surakarta pada Ahad (2/10), dini hari. Kirab tahunan itu dilaksanakan untuk memperingati tahun baru Islam 1 Muharram 1438 Hijriyah.

           Kirab dimulai dari Keraton Surakarta pada pukul 12 malam. Prosesi kirab diawali sesaat setelah abdi dalem keraton memberikan sesajen kepada sejumlah hewan kerbau atau dikenal dengan Kebo bule alias Ki Selamet. Kebo bule kemudian diarak keliling kota Solo diiringi oleh prajurit, abdi dalem dan keluarga Keraton Kasunanan Surakarta. Tak hanya itu, sejumlah pusaka pun ikut di arak dalam prosesi kirab.

           Sementara, warga yang mengikuti rangkaian kirab bukan saja berasal dari Surakarta. Banyak warga dari daerah lainnya seperti Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Sragen hingga beberapa warga dari Jawa Timur seperti Purwodadi, dan Gresik dan lainnya. Mereka begitu antusias mengikuti rangkaian kirab 1 Suro.

           Misalnya saja Muhlur Ikhsan (48 tahun). Warga Purwodadi, Jawa Timur itu sampai rela menginap di halaman Keraton Surakarta sejak Sabtu (1/10) hanya untuk menanti kirab 1 Suro. “Saya datang ke Solo dari kemarin, menginap di Keraton saja, ingin dapat berkah 1 Suro,” kata Muhlur.

            Tiap tahun ia memang rutin mengikuti kirab 1 Suro di Keraton Surakarta. Ia meyakini dengan mengikuti prosesi kirab mendatangkan keberkahan tersendiri baginya. Uniknya, Muhlur juga menjadi salah satu warga yang berebut daun janur serta kotoran kerbau. Kata dia, dua hal tersebut diyakininya dapat menyuburkan tanaman dan mengobati penyakit kulit.

           “Semua untuk dibawa pulang, sebagian nanti untuk di tebarkan di sawah agar tanah subur. Dan untuk obat juga,” kata dia.

    Senada juga diungkapkan Sumiyati (50). Ia bersama tetangganya datang dari Sukoharjo untuk menyaksikan arak-arakan kebo bule. Menurutnya, dengan melihat kebo bule serta medapatkan sisa makanannya dapat mendatangkan keberkahan tersendiri.

           Kirab 1 Suro juga menyita perhatian warga negara asing, seperti Morteen (42). Pria berkebangsaan Norwegia itu mengaku sangat tertarik dengan kultur dan budaya di Indonesia, khususnya di Solo. Morrteen mengaku telah dua kali mengikuti kirab 1 Suro. Terlebih ia menjadi tamu kehormatan keluarga besar Keraton.

           “Saya suka dengan perayaan Suro, sangat meriah. Ada nuansa mistis, tentu ya. Saya melihat keris, tombak, juga kerbau dibawa berkeliling kota,” tuturnya.

            Sementara itu, Kanjeng Pangeran Aryi, Winarno Kusumo menjelaskan, kirab dengan membawa kerbau sebagai simbol agar rakyat kecil dapat bekerja keras untuk mencapai kesejahteraan. Selain itu, kata dia, kirab juga bertujuan agar terciptanya ketentraman dan kedamaian di Indonesia. “Kami memohon pada yang Maha Kuasa meminta ketenteraman negara, meminta sehat penduduknya,” katanya.

    Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/16/10/03/oefs97361-warga-antusias-ikuti-kirab-1-suro-keraton-solo

    ,


           SUKOHARJO - Pemkab Sukoharjo siap jadikan 150 desa dalam program desa inklusi. Deklarasi desa inklusi sedang dipersiapkan dan direncanakan akan dilaksanakan pertengahan Oktober ini.

           Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sukoharjo Guntur Subiyantoro, Minggu (02/10/2016) mengatakan, saat ini baru ada empat desa inklusi di Kabupaten Sukoharjo. Keempatnya semuanya berada di wilayah Kecamatan Weru. Dua diantaranya yakni di Desa Krajan dan Desa Tegalsari. Sedangkan desa lainnya di Kabupaten Sukoharjo belum menjadi desa inklusi. Kedepan Dinsos Sukoharjo akan menjadikan semua desa di Sukoharjo menjadi desa inklusi.

         "Desa inklusi sebagai bentuk pemberdayaan tehadap para difabel. Mereka diberikan pelatihan oleh instruktur resmi agar bisa mendapatkan bekal keterampilan. Selanjutnya para difabel mendapatkan bantuan peralatan sebagai modal membuka usaha. Jadi semua desa di Kabupaten Sukoharjo akan menjadi desa inklusi dalam program pemberdayaan difabel,” ujar Guntur.

          Guntur menjelaskan Dinsos Sukoharjo melihat keberadaan empat desa inklusi yang ada sekarang di wilayah Kecamatan Weru berjalan sukses. Para difabel disana mampu diberdayakan dan hidup secara mandiri. Kesuksesan tersebut akan ditularkan ke desa lainnya. (Mam)

    Sumber : http://krjogja.com/web/news/read/11344/Pemkab_Sukoharjo_Tambah_Desa_Inklusi

    ,


         Sukoharjo – Sejumlah petani di Kecamatan Weru terpaksa harus memanen tanaman kedelai mereka lebih awal untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Hal ini diakibatkan lahan kedelai mereka tergenang air hujan, sehingga kedelai berwarna putih dan cepat membusuk.

           “Kita terpaksa panen cepat karena ladangnya terendam air hujan, padahal panennya masih sekitar dua minggu lagi. Daripada ruginya semkin banyak karena kalau menunggu sampai masa panen bisa-bisa busuk semua,” kata salah satu petani, Harso, Sabtu (1/10).

            Di Desa Karangwuni, ada sekitar 30 hektar lahan kedelai yang terpaksa harus dipanen lebih awal dari jadwal panen. Dengan kondisi seprti ini, hasil panen petani berkurang hingga 40 persen dibandingkan jika dipanen sesuai masa panen semstinya.

          Ditambah lagi, dalam kondisi cuaca yang sering terjadi hujan seperti saat ini, hasil panen juga kurang baik, mengingat kedelai paling bagus jika dipanen saat kering. Namun untuk menghindari kerugian yang lebih besar akibat lahan pertanian tidak bisa segera mengering, petani lebih memilih panen dini.

         “Sebenarnya kalau kondisi normal, untuk satu hekar bisa menghasilkan sekitar delapan ton kedelai, namun dengan kondisi seperti saat ini hanya lima ton saja. Padahal harga kedelai untuk saat ini sedang bagus-bagusnya,” tandasnya.

           Diketahui pada bulan Juli kemarin, Pemerintah bersama TNI mencanangkan kecamatan Weru sebagai sentra ladang kedelai. Program ini dijalankan dengan mempersiapkan lahan seluas 900 hektar dari total ladang kedelai di Sukoharjo seluas 1.150 hektar.

    Sumber : http://www.timlo.net/baca/68719686015/ini-alasan-petani-panen-kedelai-lebih-awal

    ,

    Jembatan di pusat pemerintahan Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo yang akan dilebarkan.

           SUKOHARJO, suaramerdeka.com – Sistem buka tutup bakal diterapkan saat pelebaran jembatan penghubung tiga kabupaten, yakni Sukoharjo, Wonogiri dan Klaten di Kecamatan Bulu, yang dimulai minggu depan.

           Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sukoharjo, Jumadi memastikan, beberapa hari lagi pelebaran pada jembatan penghubung lintas kabupaten itu, dimulai oleh kontraktor.

           Lebar jembatan yang hanya 5,5 meter itu, akan ditambah 3 meter. Pasalnya selama ini, jembatan dikeluhkan sempit oleh pengendara.
    “Di sana, juga menjadi jalur truk bermuatan material dan barang kebutuhan. Maka kami harapkan, lalu lintas barang bisa lebih lancar, ekonomi tidak terganggu,” kata dia, Jumat (30/9).

       Lebih lanjut Jumadi menjelaskan, pekerjaan fisik akan berlangsung awal Oktober hingga pertengahan Desember. Selama perbaikan, dipastikan akan diberlakukan sistem buka tutup, sehingga pekerjaan senilai pagu paket Rp 763 juta itu, tidak terganggu.

          Untuk itu dia berharap pengendara memaklumi adanya pelebaran yang memakan waktu 2 bulan 15 hari tersebut.

        “Adanya pelebaran juga karena banyaknya masukan pengendara dan warga. Mungkin mengganggu perjalanan sebentar,” jelasnya.

    Pengendara di sekitar jembatan Bulu, Fauzi Susanto (37) menyambut baik dengan adanya pelebaran.

           Wiraswasta yang hampir setiap hari melintas di kawasan itu, berharap saat adanya pekerjaan fisik, dibarengi dengan pemasangan rambu-rambu peringatan. Selain itu, ditambah lampu penerangan di sekitar lokasi proyek.

          “Karena saat malam, jalur lintas kabupaten itu masih dilewati pengendara. Jadi rambu-rambu peringatan harus optimal. Pekerjaan diharapkan kelar tepat waktu,” harapnya.

    (Asep Abdullah/CN34/SM Network)

    Sumber : http://berita.suaramerdeka.com/jembatan-bulu-dilebarkan-pekan-depan


           Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya mendapat tanda jasa kehormatan Satyalancana Pembangunan dari Presiden Jokowi. Penganugerahan satyalancana tersebut diberikan dalam upacara Hari Kesaktian Pancasila, di Alun-alun Satya Negara, Sukoharjo, Sabtu (1/10). 

           Sedianya tanda kehormatan tersebut akan disematkan oleh Mendagri, namun karena sesuatu hal, penyematan tanda jasa diwakilkan pada Dirjen Otonomi Daerah, Dr Sumarsono MDM.

       Satyalancana tersebut diberikan berdasarkan KEPPRES RI Nomor 62/TK/2016, sebagai penghargaan atas jasa-jasa bupati terhadap bangsa dan masyarakat dalam pembangunan. Khususnya, berhasil membangun Kabupaten Sukoharjo melalui kebijakan alokasi APBD berdampingan dengan DAK.

       Serta keberhasilan Bupati dalam membangun sarana dan prasarana seperti pasar, gedung perkantoran, infrastruktur jalan dan jembatan sehingga mempermudah akses masyarakat, meningkatkan kualitas pelayanan publik, kemandirian ekonomi, kualitas hidup, dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sukoharjo.

        “Terimakasih kepada bapak Presiden atas tanda kehormatan ini. Kami akan terus melakukan pembangunan untuk masyarakat,” ungkap bupati Wardoyo usai upacara.
    (Heru Susilo/CN38/SM Network)

    Sumber : http://berita.suaramerdeka.com/bupati-sukoharjo-peroleh-satyalancana-pembangunan/


           Kerajinan ekonomi kreatif "Anglo" yakni tungku gerabah salah satu alat masak untuk menghasilkan panas api produksi asal Desa Windan Kartasura Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, masih banyak diminati konsumen.

           Supinah (63) seorang pengrajin warga Desa Windan RT 01 RW VI Kartasura, Sukoharjo, Rabu (27/5), mengatakan, pengrajin anglo tetap memproduk alat untuk memasak tradisional tersebut karena masyarakat masih banyak yang membutuhkan terutama di daerah pedesaan dan sebagian kota.

           Supinah seorang nenek bercucu lima tersebut sebagai pengrajin anglo hanya melanjutkan usaha orang tuanya, sejak 1975 hingga sekarang. Orang tuanya usaha membuat anglo ini, pada 1960-an.

           Menurut dia, dirinya melanjutkan usaha membuat anglo tersebut karena dituntut biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan pelanggan juga masih membutuhkan alat masak itu.

           "Anglo di pedesaan masih banyak yang menggunakan, meski menurun dratis sejak ada program elpiji tiga kilogram. Masyarakat kota yang masih menggunakan anglo, biasanya para pedagang makanan, restoran yang menunya bakar," katanya.

           Menurut dia, kerajinan anglo di desa tersebut semakin jarang dan hampir punah, tetapi masih banyak masyarakat yang menggunakan alat masak anglo dengan bahan bakar arang ini. Dirinya kemudian bertekat tetap melanjutkan produksi dan sambil melestarikan alat masak tradisional ini.

           "Hasilnya lumayan bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," kata Supinah.

           Supinah menjelaskan, dirinya mampu memproduksi anglo dal;am bentuk masih mentak sekitar 12 hingga 14 biji per hari. Pada proses pembakaran hingga menjadi anglo siap pakai arata-rata produksi sekitar 80 hingga 100 biji per bulan.

           Menurut dia, anglo produksinya biasa dijual dengan harga Rp4.000 per biji untuk ukuran kecil dan Rp7.500 per biji ukuran besar. Barang produksinya banyak dijual di wilayah Sukoharjo, Solo, Klaten, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, dan Boyolali.

           "Saya dari hasil kerajinan ini, omzet lumayan bisa mencapai minimal sekitar Rp350 ribu per minggu," katanya.

           Menyinggung soal bahan baku tanah liat, Supinah menjelaskan, dahulu pengrajin untuk mendapatkan bahan baku tanah liat hanya mengambil dari halaman rumah sendiri.

           Namun, pengrajin sekarang untuk mendapatkan bahan baku tanah liat harus membeli dengan harga Rp300 ribu per kendaraan pikap, dan harus mendatangkan dari daerah Bekonang Sukoharjo.

           "Tanah liat sebanyak satu kendaraan pikap itu, bisa menghasilkan sekitar 100 biji anglo," katanya.

           Pengrajin lainnya, Jiman (78) mengatakan, jumlah pengrajin anglo di Desa Windan ini, tinggal lima orang termasuk Supinah yang masih bertahan. Jumlah pengrajin sebelumnya hampir seluruh warga desa ini, yakni sekitar 35 orang.

           Namun, beberapa pengrajin sudah meninggal dunia dan remaja sekarang kelihatan tidak ada yang mau melanjutkan usaha orang tuanya, membuat alat masak tradisional itu.

           "Kerajinan ini, semakin punah, tetapi produksi masih bisa memenuhi kebutuhan konsumen," kata Jiman. [Ant/L-8]

    Sumber : http://sp.beritasatu.com/home/kerajinan-anglo-asal-sukoharjo-masih-diminati/88221


           Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (13/5/2016). Salah satu daerah yang dikunjungi adalah Desa Gadingan yang terkenal dengan sentra kerajinan kerupuk karak.

           Pada kesempatan tersebut Puan berharap, UMKM khususnya industri karak di desa Gadingan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Rata-rata karak yang diproduksi di Sukoharjo dipasarkan ke daerah Solo dan sekitarnya.

           Dalam kesempatan itu Menko PMK juga menyerahkan bantuan berupa 1 unit motor pengangkut dan 1 unit mesin motor perahu.

    (rat)

    Sumber : http://photo.sindonews.com/view/17892/menko-puan-kunjungi-sentra-industri-kerupuk-karak-di-sukoharjo


           Memasuki desa ini, pemandangan tipikal seperti hamparan sawah luas, subur, dan hijau langsung menyergap dan menenteramkan jiwa. Desa ini terlihat asri dan damai. Penduduknya pun bersikap amat ramah. Namun, siapa sangka bahwa desa ini ternyata kawasan penghasil ciu?

           Ngomong-ngomong soal ciu, nama Bekonang akan muncul dan terasa begitu lekat dengannya. Bekonang merupakan sebuah desa di timur laut Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai kawasan industri alkohol sejak ratusan tahun silam. Cikal bakal berkembangnya alkohol di desa ini ternyata tak lepas dari pengaruh kultur para penjajah.

           Meskipun belum terdapat sumber kuat dan pasti mengenai kemunculan ciu Bekonang, secara lebih berdasar, tradisi pengelolaan minuman tradisional beralkohol ini semakin marak seiring menjamur dan beroperasinya pabrik-pabrik gula buatan Belanda, termasuk Pabrik Gula Tasikmadu yang dibangun pada 1871.

           “Orang-orang Belanda memiliki kebiasaan meminum minuman keras, sehingga sejak zaman Belanda di tempat ini mulai didirikan industri minuman keras untuk konsumsi,” ujar Ketua Paguyuban Industri Etanol Desa Bekonang, Sabariyono kepada Metrotvnews.com di Desa Bekonang, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (23/04/2016).

          Sabar, demikian ia biasa disapa mengatakan minuman dengan kadar alkohol 30 persen itu biasa disebut ciu. Ketika itu, masyarakat belum mengetahui bahwa ciu dapat diproses kembali untuk menghasilkan alkohol.

          Ciu berbahan baku tetes tebu dengan kadar alkohol 30 persen. Tetes tebu harus melalui proses peragian atau fermentasi, dipanasi dan disuling hingga menjadi ciu. Proses itu kurang lebih memakan waktu lima hari. Pada zaman dahulu, perajin masih menggunakan alat-alat tradisional yang terbuat dari tanah liat.

          Tradisi pengelolaan ciu di Bekonang masih bertahan hingga kini. Namun, akibat mahalnya bahan baku dan aturan yang sulit, para perajin ciu di desa ini semakin tahun kian berkurang.

           Sabariyono mengungkapkan, sepuluh tahun lalu di Desa Bekonang ini ada kurang lebih 70 perajin ciu yang umumnya berada di Dukuh Sentul. Namun, kini jumlahnya berkurang hampir 50 persen hingga hanya tersisa sekitar 35 pengrajin saja. Penyebabnya, harga bahan baku naik hampir seratus persen, sehingga perajin banyak tidak kuat menanggung ongkos produksi dan memilih gulung tikar. Olah-alih alkohol ke bioetanol

           Meskipun telah berlangsung sejak ratusan tahun lamanya, tradisi pengelolaan ciu Bekonang tampaknya semakin sulit untuk bertahan. Ciu Bekonang yang dianggap sebagai bagian dari minuman beralkohol yang mengalami cukup ketat dari segi pengawasan pada akhirnya harus pasrah dengan mahalnya bahan baku dan rumitnya perundang-undangan yang berlaku.

          Menurut Sabariyono, dalam kondisi serba kesulitan akhirnya membuat para perajin ciu di Bekonang akhirnya menyambut gagasan peralihan minuman beralkohol itu menjadi etanol murni yang siap diolah kembali untuk kepentingan farmasi dan energi.

          Penyulingan ciu untuk menjadi etil alkohol murni memerlukan keahlian khusus. Sabariyono menuturkan, saat usianya masih kanak-kanak, ada seseorang di Desa Bekonang bernama Suwandi yang sudah memiliki kecakapan dalam proses penyulingan tersebut. Sayangnya, keahlian itu tidak sempat ditularkan kepada perajin lain.

           Ia ingat betul bahwa saat itu hanya Suwandi membeli ciu dari warga Desa Bekonang yang memproduksi ciu dan mengolahnya lagi untuk menaikkan kadar alkoholnya. Setelah kandungan alkohol cukup tinggi, Suwandi menjual produk itu ke pengusaha di kota. Bisnis ini memberikan kemakmuran bagi Suwandi.

           “Dia menjadi orang terkaya di desa ini pada waktu itu. Suwandi kemudian pindah ke kota dan meninggalkan masyarakat Desa Bekonang yang pada saat itu belum mengetahui teknologi mengolah ciu menjadi alkohol,” kata Sabariyono.

           Gagasan pentingnya mendukung peralihan ciu menjadi alkohol murni menguat pada awal dekade 1970. Melalui program khusus, pemerintah Orde Baru mencoba mengawal pengelolaan ciu menjadi alkohol murni melalui dukungan teknologi yang disediakan.

          Pada masa Orde Baru, pemerintah mencanangkan program kemitraan antara industri besar dengan industri rumahan. Maka, terjalinlah hubungan bisnis antara perajin ciu di Desa Bekonang dengan perusahaan besar di bidang farmasi.

           Sejak era Orde Baru, perajin ciu di Desa Bekonang menyetor alkohol berkadar rendah (ciu) ke Koperasi Unit Desa (KUD). Selanjutnya, perusahaan farmasi bernama PT Indo Acidatama Chemical Industry membeli ciu itu untuk kemudian diproses lagi menjadi alkohol untuk keperluan medis.

           “Penyulingan ciu menjadi alkohol dilakukan di sana dengan teknologi yang sudah canggih,” kata Sabar.


             Namun, kerja sama itu tidak berjalan lama. Hanya berkisar tiga tahun lantaran pajak cukai yang mahal pada saat itu. Kini para perajin, mencari target pasarnya masing-masing untuk mendistribusikan alkohol. Sedangkan ciu dalam aturan Peraturan Presiden RI Nomor 74 Tahun 2013 masuk minuman beralkohol golongan C dengan kadar alkohol 20 persen hingga 55 persen. Untuk memproduksi, mengedarkan dan memperdagangkan ciu ada izin khusus yang oleh ketua paguyuban disebut lebih rumit dan mahal.

             Dengan demikian, ciu sudah tidak diperbolehkan lagi diproduksi di desa ini. Perajin diizinkan membuat alkohol atau etanol, namun dilarang membuat ciu. Artinya, ciu yang dulu dibanggakan warga masyarakat Desa Bekonang ini kini dianggap barang ilegal untuk diproduksi dan dipasarkan.

          “Sekarang Desa Bekonang menjadi sentra industri alkohol, bukan ciu,” kata Sabar.

              Dari sekitar 30 perajin yang tersisa, dalam sehari seorang perajin rata-rata mampu menghasilkan 15 hingga 50 liter alkohol. Artinya dalam satu hari, produksi alkohol di Desa Bekonang bisa mencapai 1.500 liter.

           Pemerintah membantu dengan memberikan satu unit alat. Alat ini mengolah ciu menjadi alkohol untuk kepentingan medis. Karena tidak memungkinkan satu orang memiliki satu alat, maka perajin dibagi dalam beberapa kelompok.

           Seiring lesunya pasar tetes tebu dan pengelolaan ciu. Etanol yang terkandung dalam minuman khas produksi Bekonang ini kemudian dikabarkan akan dipacu sebagai bahan dasar dari energi terbarukan dengan nama bioetanol. Sayang, lagi-lagi harapan ini pupus lantaran tidak tampaknya pasar yang jelas dan menjanjikan.

           “Dari proses yang dihitung, jatuhnya harga bioetanol itu jauh lebih mahal dari premium, pasti orang-orang lebih memilih premium daripada bioetanol,” kata Sabariyono.

           Hasil pengolahan tetes tebu yang dijadikan ciu bisa menjadi bio etanol dengan syarat kadar alkohol mencapai 99,5 persen. Untuk memproduksi bioetanol, perajin alkohol harus melakukan proses fermentasi tetes tebu, pemanasan dan penyulingan hingga menjadi ciu (kadar alkohol 30 persen). Selanjutnya ciu diproses di dalam alat khusus untuk menjadi bioetanol.

           Pengalihan produksi ciu Bekonang menjadi bio etanol ini sempat menjadi wacana penelitian sejumlah akademisi perguruan tinggi. Namun, mendadak semua itu tak jadi dilaksanakan.

           “Dulu sempat ada dari universitas, namun masih dalam tahap komunikasi. Tapi tidak ada kelanjutannya, mungkin mereka sudah memperhitungkan nilai ekonominya nggak ada,” kata Sabariyono.

    Harapan baru dari sisa limbah

           Sembari menunggu kepastian dan keseriusan pemerintah dalam menggenjot pengalihan ciu menjadi bahan bakar terbarukan. Masyarakat Bekonang tak kehabisan akal. Sejak 2014, masyarakat Bekonang mulai memanfaatkan limbah tetes tebu dan ciu yang dihasilkan menjadi pupuk yang bermanfaat bagi kepentingan dunia pertanian dengan nama ciunik.

           “Kata ciunik diambil dari kata limbah ciu dan organik,” kata Kepala Desa Bekonang Joko Tanyono.

           Nama ciunik, kata Joko, diberikan langsung oleh Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya. Limbah yang tadinya dirasakan cukup mengganggu kini justru dapat dimanfaatkan para petani di sekitar Sukoharjo.

           “Kami juga telah memasarkan pupuk cair itu. Jadi limbah pun bisa berguna bagi masyarakat,” kata Joko.

           Menurut Sabariyono ciunik dibuat dari limbah ciu yang disebut badhek yang berbentuk seperti kecap cair. Limbah itu kemudian dikumpulkan warga kemudian diolah menjadi pupuk yang mampu memerbaiki struktur tanah.

           “Petani kan banyak menggunakan pupuk kimia. Pupuk yang tidak terserap bisa merusak tanah sehingga untuk memperbaiki strukturnya digunakan ciunik ini,” kata dia.

           Saat ini, tempat produksi Ciunik memiliki tujuh tangki pengolah limbah ciu. Satu tangki dapat menampung lima ton limbah. Oleh masyarakat pupuk ciunik kemasan lima liter biasanya dijual seharga Rp200 ribu.

    (ADM)

    Sumber : http://telusur.metrotvnews.com/news-telusur/aNrLo4ak-menengok-sentra-kerajinan-alkohol-di-bekonang

    ,


    Kabupaten Sukoharjo

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia,ensiklopedia bebas Disambig gray.svg

    Moto: Sukoharjo MAKMUR(Maju, Aman, Konstitusional, Mantap, Unggul, Rapi)
           Kabupaten Sukoharjo (bahasa Jawa: Hanacaraka,Latin, Sukåharjå) adalah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Pusat pemerintahan berada di Sukoharjo, sekitar 10 km sebelah selatan Kota Surakarta. Kabupaten ini berbatasan dengan Kota Surakarta di utara, Kabupaten Karanganyar di timur, Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Gunung Kidul di selatan, serta Kabupaten Klaten dan Kabupaten Boyolali di barat.

           Sukoharjo adalah kota yang sangat nyaman, kota yang asri dan menjadi dambaan seperti slogan dari Sukoharjo itu sendiri yaitu Sukoharjo Makmur.[2] Sukoharjo MAKMUR juga mempunyai arti atau kepanjangan dari Maju Aman Konstitusional Mantap Unggul Rapi. Disamping kota Sukoharjo nyaman, orang-orang yang tinggal di Sukoharjo juga ramah dan menyenangkan. Sukoharjo terkenal dengan hasil pertanian, kerajinan, serta produksi jamu.

           Selain itu Kabupaten Sukoharjo juga mempunyai nama sebutan (julukan) yang cukup terkenal, antara lain: Kota Makmur, Kota Tekstil, Kota Gamelan, The House of Souvenir, Kota Gadis (perdagangan, pendidikan, industri, dan bisnis), Kabupaten Jamu, Kabupaten Pramuka, serta Kabupaten Batik.

    Sejarah singkat

           Pasca Perang Jawa (1825-1830), pemerintah Hindia Belanda makin memperketat keamanan untuk mencegah terulangnya pemberontakan. Kondisi masyarakat Jawa yang semakin miskin mendorong terjadinya tindak kejahatan (pidana) di berbagai tempat. Menghadapi hal itu pemerintah kolonial menekan raja Surakarta dan Yogyakarta agar menerapkan hukum secara tegas. Salah satunya dengan membentuk lembaga hukum yang dilengkapi dengan berbagai pendukung.

           Di Kasunanan Surakarta dibentuk lembaga Pradata Gedhe, yakni pengadilan kerajaan yang menjadi pusat penyelesaian semua perkara. Lembaga ini dipimpin oleh Raden Adipati (Patih) di bawah pengawasan Residen Surakarta. Dalam pelaksanaannya, Pradata Gedhe mengalami kesulitan karena volume perkara yang sangat besar. Sunan Pakubuwono dan Residen Surakarta memandang perlu melimpahkan sebagian perkara kepada pemerintah daerah. Mereka sepakat membentuk pengadilan di tingkat kabupaten yang diberi nama Pradata Kabupaten.

           Pada tanggal 16 Februari 1874, Sunan Pakubuwono IX dan Residen Surakarta, Keucheneus, membuat perjanjian pembentukan Pradata Kabupaten untuk wilayah Klaten, Boyolali, Ampel, Kartasura, Sragen dan Larangan. Surat perjanjian tersebut disahkan pada hari Kamis tanggal 7 Mei 1874, Staatsblad nomor 209. Pada Bab I surat perjanjian, tertulis sebagai berikut :

           Ing Kabupaten Klaten, Ampel, Boyolali, Kartasura lan Sragen, apadene ing Kawedanan Larangan kadodokan pangadilan ingaranan Pradata Kabupaten. Kawedanan Larangan saikiki kadadekake kabupaten ingaranan Kabupaten Sukoharjo. (Di Kabupaten Klaten, Ampel, Boyolali, Kartasura dan Sragen, dan juga Kawedanan Larangan dibentuk pengadilan yang disebut Pradata Kabupaten. Kawedanan Larangan sekarang dijadikan kabupaten dengan nama Kabupaten Sukoharjo).

           Berdasarkan surat perjanjian tersebut sekarang ditetapkan bahwa Kamis, 7 Mei 1874 menjadi tanggal berdirinya Kabupaten Sukoharjo, yang sebelum itu bernama Kawedanan Larangan.

           Pada era kemerdekaan atau Pemerintahan Hari Lahir Kabupaten Sukoharjo dengan adanya Penetapan Pemerintah No.16/SD, tepatnya pada hari / tanggal Senin Pon, 15 Juli 1946 dan juga adanya pembentukan Pemerintah Daerah di karesidenan Surakarta.

           Pembentukan Karesidenan Surakarta hanya berlangsung selama 1450 hari atau selama 3 tahun 11 bulan 25 hari (Berdiri pada Senin Pon, 15 Juli 1946 dan berakhir pada Selasa Pon, 4 Juli 1950). Dasar Hukum Hari Lahir Kabupaten Sukoharjo, berdasarkan :

           Penetapan Pemerintah No.16/SD, UU No.13 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Provinsi Jawa Tengah. Perda Kabupaten Dati II Sukoharjo No.17 Tahun 1986 tentang Hari Lahir Kabupaten Sukoharjo yang disahkan dengan SK Gubernur KDH Tingkat I Jawa Tengah, tanggal 15 Desember 1986 No.188.3/480/1986 Lembaran Daerah Kabupaten Dati II Sukoharjo No.3 Tahun 1987 Seri D No.2 tanggal 9 Januari 1987 Kabupaten Sukoharjo di waktu itu merupakan daerah tepi penuh dengan area persawahan yang sangat luas, lahannya begitu subur dan makmur.

           Nama Sukoharjo dalam penulisan Bahasa Jawa adalah "Sukaharja" yang berarti Bumi yang selalu "Suka = Senang / Gembira" dan "Raharja = Makmur".

           Maka dari itu, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo memberi slogan atau motto untuk daerahnya dengan nama "SUKOHARJO MAKMUR". MAKMUR yang artinya Maju, Aman, Konstitusional, Mantap, Unggul, Rapi.

    Geografi

           Bengawan Solo membelah kabupaten ini menjadi dua bagian: Bagian utara pada umumnya merupakan dataran rendah dan bergelombang, sedang bagian selatan dataran tinggi dan pegunungan.

           Sebagian daerah di perbatasan utara merupakan daerah perkembangan Kota Surakarta, mencakup kawasan Grogol dan Kartasura. Kartasura merupakan persimpangan jalur Solo-Yogyakarta dengan Solo-Semarang. Kabupaten Sukoharjo dilintasi jalur kereta api Solo-Wonogiri, yang dioperasikan kembali pada tahun 2004 setelah selama puluhan tahun tidak difungsikan.

    Pembagian administratif

           Kabupaten Sukoharjo terdiri atas 12 kecamatan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Sukoharjo.

    1. Baki
    2. Bendosari
    3. Bulu
    4. Gatak
    5. Grogol
    6. Kartasura
    7. Mojolaban
    8. Nguter
    9. Polokarto
    10. Sukoharjo
    11. Tawangsari
    12. Weru

    Perekonomian dan perdagangan

    Beberapa pusat perbelanjaan modern dan Industri yang berada di Kabupaten Sukoharjo antara lain :

    Modern

    1. Solo Baru : Hartono Lifestyle Mall (HLM), The Park, Hartono Trade Center (HTC), Carrefour Solo Baru.
    2. Gentan : Luwes Gentan Center Park
    3. Palur : Mitra Palur
    4. Kartasura : Margo Murah Baru, Carrefour Pabelan, Luwes Kartasura, Mitra Kartasura
    5. Sukoharjo : Mitra Sukoharjo, Amigo, Fashion Village, Baby Shop

    Industri

    1. Sritex
    2. Konimex
    3. Batik Keris
    4. Tyfountex

    Hotel

    1. Hotel Amanda, Gedangan
    2. Hotel Tjiptorini, Kartasura
    3. Sadinah Lodging Hotel, Kartasura
    4. Hotel Wisma Srikandi, Kartasura
    5. Hotel Pramesthi, Kartasura
    6. Hotel Ken Dedes, Kartasura
    7. Hotel Ken Dedes 8, Gatak
    8. Hotel Al Madina, Pabelan
    9. Hotel Solo Intan, Makamhaji
    10. Hotel Indah Sukoharjo, Makamhaji
    11. Hotel Mulia, Gentan
    12. Hotel Ommaya & Resort, Gentan
    13. Fave Hotel, Solo Baru
    14. Sweet Home, Solo Baru
    15. Griya Surya, Solo Baru
    16. Hotel Tosan, Solo Baru
    17. Hotel Brothers, Solo Baru
    18. Hotel Best Western Premier, Solo Baru
    19. Rumah Batu Villa & Spa, Kadilangu
    20. Medwist Floating Hotel Course, Telukan
    21. Hotel Ken Dedes 3, Sukoharjo
    22. Hotel Arancia, Sukoharjo
    23. Hotel Agung Joyo Nugroho, Sukoharjo
    24. Hotel Istana Hapsari, Sukoharjo
    25. Brothers Inn Hotels (samping RS dr. Oen Solo Baru)
    26. Hotel Syariah Solo (dekat Lor In Hotel Solo)
    27. Hotel Grand Soba (dekat Singapore Piaget Academy)
    28. Grand Amanda Guest House Syariah, Grogol Indah, Telukan

    Wisata

    1. Petilasan Kraton Pajang, Kartasura
    2. Kraton Kartasura
    3. Kora-Kora (kolam renang anak), Baki
    4. Pandawa Water World (PWW), Solo Baru, Grogol
    5. Pesanggrahan Langenharjo, Grogol
    6. Pemandian Air Hangat Langenharjo, Grogol
    7. Desa Wisata Wirun, Mojolaban
    8. Desa Wisata Kreatif Kenep, Sukoharjo
    9. Air Terjun Curug Banyu Tibo Karangtengah, Weru
    10. Air Terjun Curug Krajan, Weru
    11. Air Terjun Grojogan Beton, Weru
    12. Alaska Waterboom, Polokarto
    13. Royal Water Adventure, Telukan
    14. Waduk Mulur, Bendosari
    15. Sendang Pinilih, Nguter
    16. Dam Colo, Nguter
    17. Gunung Sepikul, Bulu
    18. Sendang Ki Truno Lele (sebelum masuk kawasan Batu Seribu), Bulu
    19. Umbul Pecinan Batu Seribu, Bulu
    20. Makam Ki Ageng Balak, Bendosari
    21. Makam Ki Ageng Sutowijoyo, Tawangsari
    22. Makam Ki Ageng Purwoto Sidik, Weru
    23. Makam Pahlawan K.H. Samanhudi, Cemani

    Kerajinan


    1. Gitar
    2. Mebel
    3. Rotan
    4. Jimbe
    5. Rebana
    6. Gamelan
    7. Alkohol / Ethanol
    8. Kaligrafi
    9. Tatah Sungging

    Kuliner

    1. Es Teler (Penemu Samijem Asli Sukoharjo)
    2. Es Degan
    3. Es Buah
    4. Es Dawet
    5. Spesial Sambal (SS)
    6. Mie Ayam
    7. Bakso
    8. Soto
    9. Gempol Pleret
    10. Sate Kambing
    11. Jenang Sumsum
    12. Jenang Grendul
    13. Kripik Singkong
    14. Kripik Belut
    15. Ikan Bakar
    16. Nasi kucing
    17. Nasi Teri
    18. Ayam & Bebek Goreng Pak H. Slamet / Pak Ndut (Khas Kartasura, Sukoharjo)
    19. Bothok Miri (Khas Desa Kedunggudel, Kec/Kab. Sukoharjo)
    20. Nasi Liwet (Khas Baki, Sukoharjo)
    21. Jenang Krasikan (Khas Tawangsari, Sukoharjo)
    22. Gado-Gado
    23. Lotek
    24. Rujak
    25. Pecel
    26. Brambang Asem
    27. Sate Gembus
    28. Sate Kikil
    29. Tahu Kupat
    30. Tempe Alakatak (Khas Weru, Sukoharjo)
    31. Tengkleng
    32. Ampyang

    Layanan publik

    Beberapa rumah sakit yang terletak di Sukoharjo antara lain :

    1. RSUD Kabupaten Sukoharjo
    2. Klinik & Rumah Bersalin Yulita
    3. Balai Pengobatan & Rumah Bersalin PKU Muhammadiyah Sukoharjo
    4. RS Dr. Oen Solo Baru
    5. YARSIS (RS Islam Surakarta)
    6. RS Karima Utama
    7. RS Nirmala Suri
    8. Indriati Hospital
    9. RS Ibu & Anak Griya Husada
    10. Sebelas Maret University Hospital
    11. RS Orthopedi Prof. Dr. R. Soeharso
    12. RS PKU Muhammadiyah Kartasura
    13. RS Umum Sukosari Husada

    Fasilitas pendidikan

    1. Perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Sukoharjo antara lain
    2. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
    3. Kampus V JPTK Universitas Sebelas Maret (UNS)
    4. Akademi Bahasa Asing Prawira Martha Sukoharjo
    5. AMIKOM Surakarta
    6. STIE Trianandra
    7. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Surakarta
    8. Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam
    9. IAIN Surakarta
    10. Akademi Teknologi Warga Surakarta
    11. Singapore Piaget Academy
    12. Universitas Veteran Bangun Nusantara
    13. Politeknik Kesehatan Bhakti Mulia


    Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sukoharjo


Top