Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
News
SUKOHARJO, suaramerdeka.com – Sejumlah jembatan yang berdiri di atas aliran Sungai Bengawan Solo, di Kabupaten Sukoharjo, perlu dipantau lebih ketat. Pasalnya debit air dalam beberapa hari ini, cenderung tinggi.
Seorang warga di Desa Telukan, Kecamatan Grogol, Arfian (30) berharap dinas terkait secara intens memantau kontruksi jembatan Bacem. Pasalnya dalam hujan beberapa hari ini, arus sungai cukup deras. Bahkan debit sungai terpanjang di Pulau Jawa itu, membawa sampah-sampah yang membahayakan bagi rangka jembatan. Seperti pohon bambu berserta akar-akaranya terbawa air dan yang menyangkut di rangka jembatan. “Harus ada pengecekan rutin,” katanya, Minggu (2/10).
Warga di Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Anwar Sodik (40), juga meminta ada pengawasan terhadap jembatan Nguter. Yakni jembatan yang mengubungkan Kota Makmur dengan Kabupaten Wonogiri. Apalagi tidak jauh dari jembatan, pernah terjadi longsor, sehingga dikhawatirkan membuat pondasi terdampak.“Terutama jika hujan deras. Bahkan debit air Bengawan Solo masih terus meninggi. Penagwasan rutin jembatan, bisa diperbanyak. Ya agar pengendara dan warga tenang,” ungkap dia.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo, Suprapto menerangkan, jika jembatan yang berada di Kota Makmur, dipantau. Dalam inventarisasi, diantaranya jembatan Bacem di Kecamatan Grogol, jembatan Gupit dan Brangkal di Kecamatan Nguter, serta jembatan Mojo di Kecamatan Mojolaban.“Terutama jembatan penghubung antar kabupaten. Kami sudah
meminta dinas terkait, lebih waspada saat hujan seperti ini. Kami meminta dicek dan dicek terus,” terang dia.
Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sukoharjo, Jumadi menjelaskan, pihaknya terus mengamati perkembangan cuaca. Termasuk di dalamnya, memantau jembatan-jembatan yang berada di Kota Makmur. Khusus untuk jembatan yang menjadi penghubung kabupaten, pihaknya berkoordinasi dengan Bina Marga Jateng Wilayah Surakarta.“Pastinya, kami melakukan pemantauan di lapangan. Hal itu dilakukan, agar memastikan kondisi jembatan prima, meski terus diguyur hujan,” akunya.
Sumber : http://berita.suaramerdeka.com/dipantau-sejumlah-jembatan-di-das-bengawan-solo/
News
Sukoharjo -- Hujan deras yang terjadi di Kota Solo dan sekitarnya sejak Minggu (2/10) siang, membuat sejumlah wilayah tergenang air. Selain itu juga beberapa pohon tumbang menghalang jalan. Di beberapa tempat jalan harus ditutup dan dialihkan akibat genangan yang meninggi, hingga pukul 19.00 WIB, belum ada tanda-tanda hujan akan reda.
Di Kabupaten Sukoharjo bahkan hujan deras menyebabkan korban meninggal dunia. Kondisi jalan yang licin membuat mobil Toyota Kijang bernomor polisi N 1135 XF mengalami kecelakaan di Jalan Solo-Wonogiri, Desa Telukan, Kecamatan Grogol. Mobil yang dikemudikan Didik Murtopo (39), warga Desa Sidorejo, Kecamatan Bendosari tersebut menabrak tiang baliho hingga ringsek saat berjalan dari arah Kota Solo.
Seorang penumpang bernama Agus Budianto (44), warga Perum Bumi Manunggal Permai, Kelurahan Combongan, meninggal dunia di lokasi kejadian, sedangkan pengemudi mobil masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Nirmala Suri, Sukoharjo.
"Peristiwanya terjadi tadi sore sekitar pukul 15.30 WIB. Hujan deras mengakibatkan jalan licin. Sopir kijang tidak bisa mengendalikan laju kendaraannya dan menabrak tiang baliho di selatan Gudang Bulog," ujar Kasat Lantas Polres Sukoharjo, AKP Finan Sukma Radipta.
Finan menjelaskan, korban meninggal dunia di lokasi kecelakaan dengan luka cukup serius di kepala. Sedangkan pengemudi Kijang mengalami luka berat dan masih dirawat.
"Kijang rusak parah di bagian depan hingga ringsek. Korban sudah dibawa ke rumah sakit Nirmala Suri. Kami masih melakukan penyelidikan, namun dugaan sementara karena hujan dan jalan licin," pungkasnya.
Sumber : https://www.merdeka.com/peristiwa/kijang-tabrak-tiang-baliho-1-penumpang-tewas-dan-sopir-luka-parah.html
News
![]() |
| MEMERIKSA BARANG: Petugas memeriksa barang dagangan di salah satu kios di Pasar Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.(suaramerdeka.com/Asep Abdullah) |
SUKOHARJO – Sejumlah pasar di Kabupaten Sukoharjo disisir petugas gabungan. Dalam penyirisan itu, petugas menemukan makanan mengandung zat berbahaya rhodamin B atau pewarna sintetis.
Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sukoharjo, Sutarmo, bahwa penyisiran dilakukan untuk menekan peredaran makanan berbahaya yang mengandung pewarna sintetis. Alhasil, petugas Disperindag, Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Pertanian (Dispertan) dan Polres itu, menemukan makanan berbahaya bagi kesehatan. Seperti kerupuk. “Makanan itu mengandung rhodamin. Kami temukan di dalam Pasar Bekonang, Kecamatan Mojolaban,” kata dia, Minggu (2/10).
Sutarmo menjelaskan, penemuan makanan mengandung zat berbahaya itu, tidak hanya di satu kios sembako. Namun ada di sejumlah kios. Selanjutnya, petugas menyita temuan tersebut untuk diteliti di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Bahkan sejumlah pedagang juga didata, agar tidak sembarangan menerima barang dari distributor.“Pedagang juga tidak bisa membedakan, mana yang mengandung rhodamin B, mana yang tidak. Kami sosialisasi, agar pedagang lebih selektif,” jelasnya.
Lebih lanjut dia mengaku, petugas tidak hanya menemukan makanan mengandung zat berbahaya, namun mendapati sejumlah label paslu dan tanpa izin sertifikat produksi pangan industri rumah tangga (P-IRT). Diantaranya, terlihat pada produk teh celup dan usus krispi. Selain pemeriksaan di Pasar Bekonang, petugas juga menyisir pasar lain secara bertahap. Mulai dari Pasar Ir Soekarno, Grogol hingga Kartasura.“Penyisiran terus dilakukan. Ini sebagai bentuk perlindungan bagi konsumen,” aku dia.
(Asep Abdullah/CN40/SM Network)
Sumber : http://berita.suaramerdeka.com/temukan-rhodamin-petugas-gabungan-sisir-sejumlah-pasar/
Featured, News
SUKOHARJO - Pemkab Sukoharjo siap jadikan 150 desa dalam program desa inklusi. Deklarasi desa inklusi sedang dipersiapkan dan direncanakan akan dilaksanakan pertengahan Oktober ini.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sukoharjo Guntur Subiyantoro, Minggu (02/10/2016) mengatakan, saat ini baru ada empat desa inklusi di Kabupaten Sukoharjo. Keempatnya semuanya berada di wilayah Kecamatan Weru. Dua diantaranya yakni di Desa Krajan dan Desa Tegalsari. Sedangkan desa lainnya di Kabupaten Sukoharjo belum menjadi desa inklusi. Kedepan Dinsos Sukoharjo akan menjadikan semua desa di Sukoharjo menjadi desa inklusi.
"Desa inklusi sebagai bentuk pemberdayaan tehadap para difabel. Mereka diberikan pelatihan oleh instruktur resmi agar bisa mendapatkan bekal keterampilan. Selanjutnya para difabel mendapatkan bantuan peralatan sebagai modal membuka usaha. Jadi semua desa di Kabupaten Sukoharjo akan menjadi desa inklusi dalam program pemberdayaan difabel,” ujar Guntur.
Guntur menjelaskan Dinsos Sukoharjo melihat keberadaan empat desa inklusi yang ada sekarang di wilayah Kecamatan Weru berjalan sukses. Para difabel disana mampu diberdayakan dan hidup secara mandiri. Kesuksesan tersebut akan ditularkan ke desa lainnya. (Mam)
Sumber : http://krjogja.com/web/news/read/11344/Pemkab_Sukoharjo_Tambah_Desa_Inklusi
Musik, News, Wisata
Sukoharjo --- Pekerja tengah memanaskan bahan gamelan yang terbuat dari tembaga dan timah di salah satu rumah pembuatan gamelan di Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (21/7/2016). Sentra pembuatan gamelan adalah salah satu tempat yang dikunjungi dalam paket wisata Accor Solo Heritage Cycling.
Manajemen PT Timah Persero Tbk mencatat transaksi senilai 2,7 juta dollar AS hingga paruh pertama tahun 2016.
Meningkatnya harga jual timah batangan ini diyakini akan memperbaiki kinerja BUMN tersebut.
“Kami optimistis PT Timah bisa menjadi pemain global. Tidak hanya menjual tapi ikut menentukan harga timah di pasar dunia,” kata Direktur Utama PT Timah Persero Tbk Mochtar Riza Pahlevi Tabrani saat media gathering di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (1/10/2016).
Kurang dari setahun, harga jual timah batangan melonjak dari 15.000 dollar AS menjadi 20.000 dollar AS per metrik ton. Adapun China, Jepang, dan Belanda, menjadi tujuan ekspor utama.
Sekretaris PT Timah, Agung Nugroho, mengatakan bahwa kenaikan harga jual timah mendatangkan keuntungan meskipun harus dibarengi dengan efisiensi di internal perusahaan.
Efisiensi salah satunya dilakukan dengan pemangkasan jumlah direksi.
“Keuntungan perusahaan berarti keuntungan juga bagi negara. Sebanyak 65 persen saham itu dikuasai negara, sisanya milik publik,” ujar Agung.
sumber : http://regional.kompas.com/read/2016/10/01/17331771/harga.jual.timah.melonjak.bumn.timah.optimistis.jadi.pemain.di.pasar.global
Penulis : Kontributor Pangkalpinang, Heru DahnurEditor : Icha Rastika
Featured, News
![]() |
| Jembatan di pusat pemerintahan Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo yang akan dilebarkan. |
SUKOHARJO, suaramerdeka.com – Sistem buka tutup bakal diterapkan saat pelebaran jembatan penghubung tiga kabupaten, yakni Sukoharjo, Wonogiri dan Klaten di Kecamatan Bulu, yang dimulai minggu depan.
Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Sukoharjo, Jumadi memastikan, beberapa hari lagi pelebaran pada jembatan penghubung lintas kabupaten itu, dimulai oleh kontraktor.
Lebar jembatan yang hanya 5,5 meter itu, akan ditambah 3 meter. Pasalnya selama ini, jembatan dikeluhkan sempit oleh pengendara.
“Di sana, juga menjadi jalur truk bermuatan material dan barang kebutuhan. Maka kami harapkan, lalu lintas barang bisa lebih lancar, ekonomi tidak terganggu,” kata dia, Jumat (30/9).
Lebih lanjut Jumadi menjelaskan, pekerjaan fisik akan berlangsung awal Oktober hingga pertengahan Desember. Selama perbaikan, dipastikan akan diberlakukan sistem buka tutup, sehingga pekerjaan senilai pagu paket Rp 763 juta itu, tidak terganggu.
Untuk itu dia berharap pengendara memaklumi adanya pelebaran yang memakan waktu 2 bulan 15 hari tersebut.
“Adanya pelebaran juga karena banyaknya masukan pengendara dan warga. Mungkin mengganggu perjalanan sebentar,” jelasnya.
Pengendara di sekitar jembatan Bulu, Fauzi Susanto (37) menyambut baik dengan adanya pelebaran.
Wiraswasta yang hampir setiap hari melintas di kawasan itu, berharap saat adanya pekerjaan fisik, dibarengi dengan pemasangan rambu-rambu peringatan. Selain itu, ditambah lampu penerangan di sekitar lokasi proyek.
“Karena saat malam, jalur lintas kabupaten itu masih dilewati pengendara. Jadi rambu-rambu peringatan harus optimal. Pekerjaan diharapkan kelar tepat waktu,” harapnya.
(Asep Abdullah/CN34/SM Network)
Sumber : http://berita.suaramerdeka.com/jembatan-bulu-dilebarkan-pekan-depan
News
SUKOHARJO — Sebuah mobil terjun ke sungai di Weru, Sukoharjo, setelah sang sopir grogi saat melewati jembatan sungai tersebut yang terlalu sempit.
Sebuah kecelakaan terjadi pada sebuah mobil di Desa Krajan, Kecamatan Weru, Sukoharjo, Sabtu (1/10/2016) pagi. Mobil yang mengangkut siswa dan guru tersebut terjun ke sungai yang berkedalaman 5 meter saat melewati jembatan yang sempit.
Beruntung, tak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Namun beberapa penumpang mengalami luka-luka dan sempat di rawat di Puskesmas Weru dan rumah sakit di Klaten. Kasatlantas Polres Sukoharjo, AKP Finan Sukma Radipta mengonfirmasi peristiwa itu.
Kasatlantas menjelaskan semua mobil Suzuki Panther berpelat nomor AD 8979 RB berjalan dari arah selatan ke utara. “Sesampai di tempat kejadian perkara [TKP] atau di tengah jembatan, diduga sopir mobil grogi karena lebar jembatan sempit. Akhirnya menabrak jembatan sisi kanan dan masuk sungai sedalam lima meter,” kata Finan, Sabtu.
Menurut Kasatlantas, saat itu mobil tersebut berisi 11 orang. “Semua penumpang termasuk sopir selamat. Yang luka dua orang yakni sopir dan seorang penumpang. Semua korban sudah pulang tinggal sopir yang masih dirawat di Rumah Sakit Klaten.”
Informasi lain yang diperoleh Solopos.com, sopir mobil tersebut bernama Khoirul. Seorang guru bernama Rini mengalami luka dan dua siswa yang mengalami luka di bagian dahi. Kedua siswa tersebut mendapatkan jahitan dan sudah diperbolehkan pulang atau rawat jalan. “Peristiwa pagi sewaktu berangkat sekolah,” ujar seorang warga Weru yang enggan disebut namanya.
Peristiwa tersebut ramai di bicarakan di media sosial atau pesan berantai. “Mobil penjemput MI Muhammadiyah Sangen 1, Krajan, Weru terperosot ke sungai. Korban sembilan orang terdiri dari tujuh siswa dan dua orang guru. Lima siswa sudah diperbolehkan pulang sedang dua siswa lagi masih dirawat,” tulis Supriyanto di grup Whatapps Sukoharjo.
Seorang warga Weru, Sugiman, saat dihubungi Solopos.com, menjelaskan kondisi terakhir mobil nahas itu. “Saya cek teman berita mobil masuk sungai benar. Saat ini, pemilik mobil masih di rumah sakit sedangkan kendaraan mobil sudah di bengkel,” jelas wasit futsal dan sepakbola tingkat Provinsi Jateng.
Sumber : http://www.solopos.com/2016/10/02/sopir-grogi-lewat-jembatan-sempit-di-weru-sukoharjo-mobil-terjun-ke-sungai-757599
News, Politik
Sukoharjo - Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) melantik 167 DPRt Partai Perindo se-Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa (06/9/2016).
Pada kesempatan tersebut HT menyerukan kepada para kader partai untuk berjuang sepenuh hati memajukan masyarakat dan membangun daerah.
HT mengatakan, seluruh kader di berbagai tingkatan harus turun ke masyarakat dan memaksimalkan program-program partai Perindo dalam membangun masyarakat. Berbagai program yang digulirkan Partai Perindo bertujuan untuk membangun masyarakat, dari yang sebelumnya kurang produktif menjadi produktif, seperti program UMKM binaan Perindo.
Sumber : sindonews.com
News, Opini
Pemkab Sukoharjo menyiapkan regulasi berupa peraturan daerah (perda) sebagai payung hukum optimalisasi pencegahan dan penanggulangan virus HIV/AIDS. Instansi terkait bakal menyusun draf rancangan peraturan daerah (raperda) penanggulangan HIV/AIDS pada 2017.
Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian Penyakit Menular DKK Sukoharjo, Bambang Sudiyono, mengatakan salah satu kendala pengendalian virus HIV/AIDS adalah belum ada payung hukum yang mengatur pencegahan penularan virus HIV/AIDS termasuk sanksi bagi orang yang berpotensi menularkan virus itu.
Dia bakal segera berkoordinasi dengan para stakeholder seperti Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sukoharjo dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang fokus mendampingi Orang Dengan HIV AIDS (ODHA).
“Pencegahan untuk memutus mata rantai penularan HIV/AIDS sangat membutuhkan payung hukum. Di Sukoharjo, belum ada perda yang mengatur tentang penanggulangan HIV/AIDS,” kata dia, saat berbincang dengan Solopos.com di kantornya, Jumat (30/9/2016).
Bambang meyakini apabila ada payung hukum penanggulangan HIV/AIDS penemuan pengidap baru virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia di Sukoharjo bakal lebih optimal. Para petugas kesehatan bakal aktif mendatangi masyarakat beresiko tinggi sebagai populasi kunci untuk melakukan voluntary counselling test (VCT).
Di Soloraya, baru Kota Solo dan Kabupaten Karanganyar yang mempunyai perda penanggulangan HIV/AIDS.
“Di Jawa Tengah baru 15 kota/kabupaten yang mempunyai payung hukum dalam mengendalikan penularan HIV/AIDS. Dua di antaranya Kota Solo dan Kabupaten Karanganyar,” ujar Bambang.
Menurut Bambang, penularan virus HIV/AIDS melalui cairan tubuh, darah atau air susu ibu yang positif terjangkit HIV/AIDS. Masyarakat yang pernah melakukan perilaku seksual menyimpang dengan bergonta-ganti pasangan harus melakukan VCT untuk mengetahui status kesehatannya apakah tertular virus HIV/AIDS atau tidak.
Hanya sebagian kecil masyarakat beresiko tinggi secara sukarela melakukan VCT di puskesmas atau rumah sakit. “Kami menerima data survei dari pemerintah pusat jumlah pengidap HIV/AIDS di Sukoharjo sekitar 1.300 orang. Hingga sekarang, kami baru bisa menemukan 316 orang. Artinya, masih ada sekitar 1.000 pengidap HIV/AIDS yang berpotensi menularkan virus ke orang lain.”
Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Sukoharjo, Sunoto, mengatakan bakal berkoordinasi dengan instansi terkait ihwal penyusunan ranperda penanggulangan HIV/AIDS. Sunoto bakal memberi perhatian khusus tentang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Jamu.
Politikus asal PAN ini menambahkan apabila penyusunan draft ranperda penanggulangan HIV/AIDS rampung segera dibahas bersama dengan anggota DPRD Sukoharjo.
“Saya garis bawahi, siapapun bisa terjangkit virus HIV/AIDS. Terlebih, jumlah pengidap HIV/AIDS selalu meningkat setiap tahun. Penyusunan draf raperda penanggulangan HIV/AIDS butuh masukan dan saran dari para stakeholder seperti KPA Sukoharjo termasuk para ODHA,” kata dia.
Seperti diketahui, jumlah pengidap baru HIV/AIDS di Sukoharjo selama semester I 2016 sebanyak 65 orang. Lima diantaranya meninggal dunia lantaran virus HIV telah berkembang menjadi AIDS di dalam tubuh. Sementara total jumlah pengidap HIV/AIDS selama tiga tahun terakhir sebanyak 316 orang.
Sumber : http://www.solopos.com/2016/10/01/pemkab-sukoharjo-siapkan-regulasi-hivaids-757341
News, Organisasi
SUKOHARJO – Puluhan pedagang burung, pakan burung dan sangkar yang selama ini mengadu nasib di Pasar Gawok, Desa Genang, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, bakal dikumpulkan.
Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sukoharjo, Sutarmo, rencana pengumpulan tersebut, dimaksudkan untuk mengakhiri kemelut yang terjadi hampir setahun ini. Dikatakannya, permasalahan bermula saat puluhan pedagang itu, menolak membayar biaya sewa selter sejak pasar senilai Rp 5 miliar tersebut ditempati Januari. ”Kemelut harus diakhiri. Pedagang bakal dikumpulkan, dan duduk bersama. Pola komunikasi akan diperbaiki,” kata dia, Kamis (29/9).
Lebih lanjut mantan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) itu menjelaskan, pedagang yang akan diundang, tidak terkecuali mereka yang sudah keluar dari pasar. Pasalnya menurut dia, pasar yang sudah direvitalisasi itu, untuk membangkitkan perekonomian rakyat di tingkat kecamatan, tapi pihaknya baru akan melakukan inventarisasi kembali jumlah pedagang secara pasti. ”Kami kroscek ulang, berapa jumlahnya, baik di dalam maupun di luar. Dipastikan lebih dari 50 pedagang,” ungkapnya.
Dia menambahkan, paling tidak tahun ini permasalahan pedagang burung itu kelar. Menurutnya, permasalahan biaya sewa sebenarnya sudah sangat meringankan pedagang. Karena besaran Rp 864 ribu yang akhirnya diturunkan menjadi Rp 576 ribu per tahun, bisa diangsur. Bahkan ada 20-25 pedagang yang mendaftarkan diri ke pengelola pasar. ”Ada yang membayar angsuran, antara 10-12 pedagang. Tetapi permasalahan harus diselesaikan. Kami ingin pasar lebih dimakmurkan. Siapa lagi kalau bukan pedagang,” terang dia.
Seorang pedagang burung yang berjualan di luar pasar, Yadi (45) menyambut baik dengan adanya rencana itu. Menurut dia, jika seluruh pedagang disatukan dalam satu selter, akan membuat pasar lebih ramai lagi. Yakni sama seperti saat pertama kali ditempati pada Januari lalu.
Hanya saja, sejak sebagian pedagang keluar dari pasar, selter menjadi sepi. ”Dulu saat pertama di tempati, orang mau jalan susah. Kan saking ramainya. Soal biaya sewa harus meringankan pedagang,” harapnya. (H80-50)
Sumber : http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/akhiri-kemelut-pedagang-burung-dikumpulkan
Agama, News
Sukoharjo - Lebih dari 25 ribu warga Sukoharjo kompak mengikrarkan sikap anti radikalisme dan terorisme. Aksi tersebut digelar hari ini di alun alun satyanegara, Sukoharjo kota. Ikrar anti radikalisme dan terorismedi Sukoharjo diikuti oleh seluruh elemen masyarakat. Mulai dari siswa tingkat SMA, mahasiswa, organisasi kepemudaan, organisasi lintas agama hingga institusi pemerintah dan aparat.
Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya kepada wartawan, termasuk Kontributor Elshinta, Deni Suryanti menyampaikan paham radikal saat ini menjadi ancaman nyata bagi negara. Yang menjadi sasaran adalah generasi muda, sehingga kewaspadaan dilingkungan utamanya pusat aktivitas pemuda harus ditingkatkan. Keluarga dan lingkungan sekitar harus mampu membentengi anak anaknya maupun keluarga dari paham radikal yang mengarah pada aksi terorisme. "Komunikasi dan menjaga kerukunan beragama dinilai cukup efektif menangkal bahaya radikalisme," ujarnya.
Menurut Wardoyo Wijaya, dengan pernyataan sikap bersama berupa deklarasi anti radikalisme dan terorisme menegaskan penolakan warga sukoharjo atas paham paham kekerasan. Paham kekerasan berdampak pada kerugian material dam imaterial dari banyak pihak. Deklarasi juga mengajak para orang tua dan tokoh agama berperan langsung dalam upaya kenangkal paham radikal dan aksi terorisme.
Aksi deklarasi anti radikalisme dan terorisme di Kabupaten Sukoharjo ini mendapat dukungan dari pemkab, TNI, Polisi dan berbagai lembaga pemerintah. Tokoh agama dan masyarakat juga mendukung penuh aksi ini. Salah satu semangat dari aksi anti radikalisme dan terorisme adalah menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Massa berkumpul memenuhi alun alun satya negara sejak pagi. Daklarasi dikumandangkan setelah semua pihak berkumpul. Seluruh sekolah tingkat SMA mengirimkan perwakilannya ikut berpartisipasi dalam aksi tersebut.
Sumber : http://elshinta.com/news/72072/2016/07/30/warga-sukoharjo-deklarasikan-anti-radikalisme-dan-terorisme
News, Politik
SUKOHARJO - Sebanyak 407 wajib pajak dengan nilai laporan Rp 56 miliar sudah melaporkan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sukoharjo dalam program amnesti pajak. Jumlah tersebut diperkirakan bisa berubah sering masuknya laporan dari wajib pajak baru kemudian hari.
Kasi Pengawasan dan Konsultasi I KPP Pratama Sukoharjo, Agus Sulistyanto mengatakan, potensi data berubah sangat besar. Data terakhir yang masuk per Minggu (25/09/2016) ada sebanyak 407 wajib pajak dengan total nilai laporan Rp 56 miliar.
Jumlah tersebut dianggap sudah besar baik dari wajib pajak maupun nilai laporan pajaknya. Besarnya laporan membuat KPP Pratama Sukoharjo lega karena suda ada kesadaran dari wajib pajak. Wajib pajak lainnya yang belum memberikan laporan diharapkan segera melapor ke KPP Pratama Sukoharjo.
“Nilai laporan tebusan paling besar di KPP Pratama Sukoharjo datang dari seorang pengusaha sebesar Rp 11 miliar. Nilai harta dari pengusaha tersebut diperkirakan sebesar Rp 500 miliar,” ujar Agus Sulistyanto.
Nilai sebesar Rp 11 miliar merupakan terbesar yang masuk ke KPP Pratama Sukoharjo. Sedangkan nilai terkecil dalam laporan terakhir yang masuk yakni Rp 20 ribu.
KPP Pratama Sukoharjo terus melakukan usaha salah satunya sosialisasi kepada masyarakat. Hal itu bertujuan sebagai bentuk peningkatan penyadaran masyarakat memberikan laporan pajak. (Mam)
** Sumber : http://krjogja.com/web/news/read/10999/KPP_Pratama_Sukoharjo_Terima_Rp_56_M **
News, Opini
SUKOHARJO — Sejumlah wilayah di Kabupaten Sukoharjo dilaporkan kesulitan mendapatkan gas elpiji ukuran tiga kilogram. Konsumen menyebut kelangkaan gas melon sudah terjadi sejak beberapa hari terakhir.
Salah seorang warga Desa Transan, Kecamatan Gatak, Dyah Puji Santoso (26) menyebutkan di sekitar tempat tinggalnya gas tabung warna hijau itu kini sulit didapat, meskipun untuk harga tidak mengalami kenaikan.
“Kalau harganya tetap seperti biasa Rp 18.000 per tabung. Tapi tidak tahu kenapa beberapa hari terakhir ini gas tiga kilogram jadi sulit didapat. Biasanya di toko langganan saya selalu ada,” tutur Dyah, Rabu (28/9/2016).
Keluhan senada juga diungkapkan Siswanto (44), warga Kecamatan Tawangsari yang menyebut gas elpiji ukuran tiga kilogram sulit didapatkan.
Menurutnya, tidak sedikit warga yang kecele saat datang ke pangkalan. “Saat datang ke pangkalan diminta meninggalkan tabung kosong. Setelah pasokan di pangkalan datang akan dikabari,” imbuhnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sukoharjo, Sutarmo justru menyebut tidak ada laporan kelangkaan gas ukuran tiga kilogram. Menurutnya, sejauh ini tidak ada pengurangan alokasi kuota gas melon di dua wilayah tersebut.
Namun demikian, pihaknya mengakui jika sejumlah pangkalan di wilayah selatan Sukoharjo seperti di Kecamatan Tawangsari dan Weru sempat mengajukan tambahan kuota gas. Hanya saja, permintaan tersebut belum disetujui.
“Kami akan melihat dulu kenapa ada permintaan tambahan kuota. Apa karena memang tingginya tingkat konsumsi atau ada permainan. Yang jelas tidak ada kelangkaan gas,” tegas Sutarmo.
Dia menambahkan, pihaknya juga akan menyelidiki sebaran gas ukuran tiga kilogram di wilayah perbatasan. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan jatah gas untuk Sukoharjo justru dijual ke daerah lain.
“Bisa jadi gas justru dijual kepada warga di wilayah Gunungkidul karena harganya lebih tinggi. Ini yang akan kami telusuri,” tandasnya.
Sesuai ketentuan, lanjut Sutarmo, setengah dari kuota gas ukuran tiga kilogram yang diterima pangkalan harus dijual ke konsumen langsung dan sebagian lainnya ke pengecer. “Praktiknya untuk pengecer justru lebih banyak daripada untuk konsumen langsung,” imbuhnya.
Sofarudin
**** Sumber : http://joglosemar.co/2016/09/warga-sukoharjo-keluhkan-sulitnya-dapat-gas-melon.html ****
Internet, News
![]() |
| Pencurian Sukoharjo, polisi membongkar sindikat pencuri dan penjual motor curian via online. |
SUKOHARJO–Polsek Kartasura, Sukoharjo membongkar penjualan sepeda motor curian yang dijual melalui online. Pembongkaran itu terungkap setelah polisi menangkap tiga pelaku pencurian sepeda motor masing-masing berinisial, FAA, 20 warga warga Bandungan, Salamkanci, Magelang, dan CZ, 26, warga Demangan, Sambi, Boyolali dan HH, 25, warga Blagbligan, Pajang, Laweyan, Solo.
“Otak dari pencurian ini adalah FA dan penadahnya adalah pemain lama yaitu CZ. Mereka berhasil kami tangkap di tempat berbeda,” ujar Wakapolsek Kartasura, Iptu I Ketut Sukira mewakili Kapolsek Kartasura, AKP Demianus Palulungan dalam konferensi pers di Mapolsek Kartasura, Kamis (25/8/2016) sore.
Menurut dia mereka sudah bisa dikategorikan sindikat karena sering beraksi bersama-sama dan dilakukan berulang kali. Kawanan ini dinilai sering beraksi di kawasan Kartasura yang banyak tempat indekos seperti di antaranya di seputar kampus UMS.
Sejumlah tempat yang pernah mereka satroni di antaranya yakni pada Kamis (11/8/2016) pukul 04.30 WIB mereka menggasak Honda Beat berpelat nomor AD 6861 HH milik, Baharudin, 56, warga Jl. Menco Raya Gang 34, Perumahan Nilagraha, Gonilan, Kartasura di depan rumah korban.
Selanjutnya, Minggu (21/8/2016) pukul 21.15 WIB mereka kembali beraksi di depan toko Tik Tok komputer Mendungan, Pabelan, Kartasura dan pukul 21.45 WIB di depan proyek apartemen menara di Pabelan, Kartasura. “Dalam waktu 30 menit mereka bisa beraksi di dua lokasi berbeda,” kata Ketut.
Menyinggung soal modus, Ketut menceritakan, awalnya tiga sekawan ini mengincar sepeda motor korban dengan cara “menggambar” atau mengitari lokasi sasaran. Setelah merasa aman, FAA sebagai otak pencurian mengawasi lokasi dan HAA sebagai eksekutor pencurian membandrek sepeda motor dengan kunci leter T.
Barang curian ini kemudian dijual kepada penadah di Sambi yaitu CZ. CZ yang menerima sepeda motor langsung menjual sepeda motor tanpa dipretheli langsung ditawarkan atau diposting secara online.
Saat ditanya CZ mengatakan harga satu unit sepeda motor curian Yamaha Vixion mereka jual Rp5,5 juta. Selama ini CZ biasa melakukan transaksi jual beli sepeda motor curian di kawasan dekat Bandara Adi Soemarmo, Ngemplak, Boyolali.
Lebih lanjut Ketut menegaskan ihwal pihaknya membongkar jaringan ini setelah pihaknya mendapat laporan kasus pencurian Yamaha Vixion berpelat nomor K 2587 UY di depan toko Tik Tok computer Mendungan, Pabelan, Kartasura.
Karenanya anggota opsnal dipimpin Kanit Reskrim melakukan penyelidikan terhadap pelaku dan pada Kamis (25/8/2016) pukul 01.30 WIB menangkap FAA di salah satu tempat di Solo bekerja sama dengan Polresta Solo. Berawal dari penangkapan itu polisi meringkus tersangka CZ dan HH.
Komplotan ini diduga juga mencuri sejumlah sepeda motor di tempat lain seperti di wilayah Solo, Boyolali dan sebagainya. “Kami sudah berhubungan dengan polres-polres lain. Karena para tersangka ini ada kemungkinan juga beraksi di daerah-daerah lain,” kata Ketut.
Selain itu pihaknya juga menangkap satu tersangka pencuri sepeda motor berinisial, ISA, 21, warga Bulan, Wonosari, Klaten. Tersangka yang masih mahasiswa ini ditangkap polisi di dekat Apotek Kusuma, Kartasura, Sukoharjo, pekan lalu.
“Dia mencuri sepeda motor Suzuki Satria AD 2198 ATE di tempat indekos di Makamhaji, Kartasura bersama seorang temannya. Namun temannya yang juga oknum pecatan anggota TNI ini melarikan diri sehingga masuk DPO kami,” kata Ketut.
Sumber : http://www.solopos.com/2016/08/25/pencurian-sukoharjo-polisi-kartasura-bongkar-sindikat-penjualan-motor-curian-via-online-747718
Media Sosial, News
![]() |
| Kisah tragis dialami bocah berusia 10 tahun asal Sukoharjo yang mengidap tumor mata. |
Anak keduanya yang bernama Fifandia Arif Arohman, 10, atau akrab disapa Fandi mengidap tumor mata. Kedua bola siswa kelas V Madrasah Ibtidaiah Negeri (MIN) Mulur, Bendosari, itu membesar hingga tak sulit dipejamkan.
Kini, Fandi bahkan sulit untuk berjalan. Ia harus ngesot untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Keseharian Fandi hanya di ruangan berukuran tiga meter kali enam meter itu. Padahal, Fandi sebelumnya merupakan anak yang aktif. Ia biasa ikut latihan silat inkai di Makodim 0726/Sukoharjo.
Suharno menceritakan sampai Juni 2016 lalu, Fandi adalah anak normal. Ia ceria dan lincah seperti anak-anak lain. “Awal Ramadan lalu mata kiri Fandi membesar. Kedua kelopak mata Fandi hingga kini semakin membesar dan seluruh tubuhnya nyeri. Pendengaran Fandi berkurang dan pengelihatannya kabur,” ujar Suharno yang bekerja sebagai tukang kayu tersebut.
Berbagai upaya dilakukan Suharno yang menjadi orang tua tunggal sejak bercerai dengan istrinya, Sumiyem, 43, dua tahun lalu. Sejumlah rumah sakit telah didatangi, seperti RSUD Sukoharjo, RS Mata Solo, bahkan RSU dr. Sardjito Yogyakarta.
“Tiap malam saya tak bisa tidur. Hati dan air mata ini terus menetes melihat kondisi anak saya Fandi. Dia tak bisa memejamkan matanya di kala tidur. Namun, saya dan si bungsu, Fania Uswatun Hasanah, 6, selalu mendampinginya tidur di depan televisi,” ujar dia.
Ketiganya tidur dalam satu kasur di depan layar TV berukuran 14 inci. Anak sulung Suharno, Muhammad Aldi Suharno, yang duduk di Kelas XI salah satu SMK di Sukoharjo tidur di kamar sebelah.
Suharno telah menghabiskan dana Rp6 jutaan untuk mengobati putranya ke sana kemari. Ia harus mendapatkan Rp45 juta-Rp65 juta agar Fandi bisa dioperasi. “Kami belum tahu dari mana mendapatkan dana tersebut. Saya akan menjual rumah satu-satunya ini kalau perlu asal Fandi sembuh,” ujar dia.
Penghasilan Suharno sebagai tukang kayu tak menentu. Terkadang ia dapat Rp50.000 sehari tetapi tak jarang tidak ada penghasilan sama sekali. “Pada 5-7 September, Fandi harus kontrol ke RSU dr. Sardjito Yogyakarta. Kami sudah mendaftarkan Fandi ke program BPJS tetapi baru bisa diaktifkan pada 7 September. Jadi biaya pengobatan sebelum 7 September masih saya carikan. Total biaya operasi Rp65 juta tetapi jika menggunakan laser Rp45 juta,” kata dia.
Sementara itu, Fandi mengaku tak kuasa menggerakkan kaki kanan. Dengan terbata-bata dia bercerita sakit yang sering ia rasakan di punggung. “Punggung nyeri terus hingga ke ujung kaki. Kaki kanan ini berat diangkat,” ucap dia lirih.
Mengenakan kaus putih bergambar tugu dan tulisan Monas, Fandi duduk di dekat ayahnya. Dia kemudian tiduran di kasur warna biru bercorak kembang-kembang. Banyak makanan yang menjadi pantangan Fandi karena ia kerap mual dan muntah. Untuk menjaga asupan makanan, Suharno menyediakan buah pisang dan sayuran.
Seorang warga Sukoharjo, Sumardi, 40, mengaku prihatin dengan kondisi Fandi dan berharap pemerintah menolong derita wong cilik. Ia tahu mengenai Fandi lewat informasi yang disebarkan para sukarelawan penggalang dana untuk Fandi di media sosial (medsos). Di situ, nama Fandi tertulis Afif.
“Narasi di medsos cukup gamblang bahwa penderita tumor mata, Afif berasal dari keluarga tak mampu. Kami berharap sukarelawan penggalangan dana untuk Afif bekerja maksimal dan dimudahkan dalam menghimpun dana,” kata dia.
Sumber : http://www.solopos.com/2016/09/08/idap-tumor-mata-bocah-pesilat-sukoharjo-butuh-bantuan-751367
Gaya Hidup, News
![]() |
| Joglosemar | Insan Dipo Ferdias ilustrasi perpustakaan daerah |
SUKOHARJO — Minat masyarakat mengunjungi Perpustakaan Daerah Sukoharjo masih tergolong rendah. Dalam sehari, hanya tercatat sekitar 100 orang berkunjung ke perpustakaan yang berlokasi di Jalan Slamet Riyadi Sukoharjo itu.
Kepala Kantor Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi (KPAD) Sukoharjo, Ninik Ristiani mengatakan, pengunjung perpustakaan didominasi siswa sekolah.
Sementara kunjungan dari kalangan masyarakat umum masih sangat minim. Berdasarkan catatannya, dalam satu hari rata-rata jumlah pengunjung antara 100-150 orang.
“Minimal dalam satu hari ada 100 pengunjung. Kalau ramai sampai 150 pengunjung,” kata Ninik Ristiani usai pembukaan Pameran Buku di Gedung Budi Sasono, Rabu (28/9/2016).
Ninik mengatakan, pihaknya masih terus berupaya meningkatkan budaya membaca di masyarakat agar jumlah pengunjung perpustakaan meningkat.
Menurutnya, selama ini KPAD sudah melakukan berbagai upaya untuk memasyarakatkan buku. Baik dengan event di dalam kantor maupun di luar kantor perpustakaan. Salah satunya dengan menggelar pameran buku.
“Selain kegiatan di dalam kantor, kami juga rutin menerjunkan armada perpustakaan keliling ke desa-desa,” imbuhnya.
Ninik menjelaskan, armada perpustakaan keliling juga mengunjungi sekolah-sekolah di wilayah pelosok. Saat ini, perpustakaan daerah memiliki koleksi lebih dari 35.000 buku.
Menurutnya, jumlah tersebut terus bertambah karena selalu mendapatkan anggaran dari APBD untuk pengadaan buku-buku baru. “Dalam satu tahun bisa menambah koleksi sekitar 500 buku baru,” imbuhnya.
Sementara itu, Pameran Buku digelar mulai 28 September-4 Oktober. Ninik mengatakan, dalam pameran tersebut terdapat 45 stan yang diisi penerbit, distributor dan toko buku, serta stan aksesoris, mainan edukasi, dan lainnya.
“Peserta pameran ada yang berasal dari Jakarta, Bogor, Bandung, Kudus, Pekalongan, Solo, dan kota-kota lain,” katanya.
Sofarudin
*** Sumber : http://joglosemar.co/2016/09/koleksi-buku-35-000-pengunjung-perpustakaan-sukoharjo-tak-lebih-150-orang.html ***
Top 10 Popular of The Week
-
Kabupaten Sukoharjo Dari Wikipedia bahasa Indonesia,ensiklopedia bebas Disambig gray.svg Moto: Sukoharjo MAKMUR (Maju, Aman, Ko...
-
SURAKARTA -- Ribuan warga antusias mengikuti kirab 1 Suro yang digelar oleh Keraton Kasunanan Surakarta pada Ahad (2/10), dini h...
-
Memasuki desa ini, pemandangan tipikal seperti hamparan sawah luas, subur, dan hijau langsung menyergap dan menenteramkan jiwa....
-
J oglosemar | Insan Dipo Ferdias ilustrasi perpustakaan daerah SUKOHARJO — Minat masyarakat mengunjungi Perpustakaan Daerah Sukoharjo m...
-
Perekonomian di kawasan Solo Baru, Kecamatan Grogol, Sukoharjo semakin bergeliat. Setelah berdiri pusat perbelanjaan modern dan h...
-
Korupsi Sukoharjo menjerat kepala desa nonaktif Palur, Kecamatan Mojolaban yang divonis 5 tahun penjara. SUKOHARJO -- Kepala ...
-
Kisah tragis dialami bocah berusia 10 tahun asal Sukoharjo yang mengidap tumor mata. Suharno, 44, tak kuasa menahan tangis saat m...
-
Sukoharjo -- Hujan deras yang terjadi di Kota Solo dan sekitarnya sejak Minggu (2/10) siang, membuat sejumlah wilayah tergenang ...
-
SUKOHARJO (KRjogja.com) - Pengelolaan aset SMA/SMK di Sukoharjo sudah diserahkan ke pihak Provinsi Jawa Tengah per 1 Oktober tah...
-
Toko modern Sukoharjo, Bupati mengancam akan menutup sendiri minimarket bermasalah. Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya, berencana ...
















