Kuliner Sukoharjo diwarnai tengkleng khas. Olahan tulang berdaging khas kuliner Soloraya itu disajikan dengan lebih sedikit kuah. Mau coba?

           Tengkleng adalah nama paten dalam khazanah kuliner Soloraya. Makanan ini adalah masakan sejenis sup dengan bahan utama tulang kambing yang masih diselimuti sedikit daging. Bisa juga ditambah dengan sedikit jeroan. Namun ada yang khas pada tengkleng dalam deretan andalan kuliner Sukoharjo.

           Bentuk fisik tengkleng pada umumnya hampir mirip gulai kambing, tetapi kuahnya biasanya lebih encer. Makanan khas khazanah kuliner Soloraya ini dapat ditemui di warung khusus yang menjual tengkleng. Namun tak jarang tengkleng juga bisa dinikmati di warung penjual sate.

              Berbeda dengan tengkleng khas Solo yang berkuah encer dan banyak, penikmat tengkleng bisa menikmati tengkleng dengan cita rasa sedikit berbeda kala berpetualang menjelajahi kuliner Sukoharjo. Di Kota Makmur ini, tengkleng disajikan dengan gaya berbeda.

           Di Warung Sate Pak Momo, yang berada 200 meter sebelah utara simpang lima Sukoharjo misalnya, tengkleng tersaji dalam dua varian rasa. Pertama, tengkleng seperti pada umumnya yang berkuah encer dan banyak. Kedua, tengkleng dengan bumbu kecap dan kuah yang lebih sedikit.

           Bentuk fisik tengkleng dengan bumbu kecap dalam deretan sajian kuliner Sukoharjo mirip dengan rica-rica. Kuahnya kental dan berwarna coklat kemerahan. Rasa kuah yang disandingkan dengan potongan tulang juga unik, yakni mirip dengan kuah tongseng.

            Mencoba tengkleng itu, Kamis (8/1/2015), daging yang masih menyelimuti tulang terasa sangat lembut. Dengan mudahnya daging itu terpisah dari tulang. Rasa gurih manis sangat sedap disantap sebagai menu makan siang.

           Manisnya tengkleng didapat dari penggunaan kecap oleh sang koki sekaligus pemilik warung tersebut, Momo. Tengkleng tersebut dapat dinikmati di Jl. Merbabu No. 5, Kelurahan Jetis, Sukoharjo, tepatnya di sebelah utara Gedung Pusat Promosi Potensi Daerah (GPPPD) Sukoharjo.

           Seporsi tengkleng dihargai Rp20.000. Sementara seporsi nasi sebagai teman bersantap dijual Rp3.000. Resep tengkleng unik itu dibuat oleh sang pemilik warung dan sudah dipasarkan kepada pelanggan sejak 1985.

    Tengkleng Rica-Rica

           Variasi olahan tengkleng dengan cita rasa unik lainnya disuguhkan Ponijo, 63. Ia menamai tengkleng unik miliknya dengan nama tengkleng rica-rica. Benar saja, bentuk fisik tengkleng yang bisa ditemui di Warung Sate Pak Ponijo di Terminal Tawangsari, Sukoharjo itu mirip dengan rica-rica.

           Kuah tengkleng sedikit dan berwarna kuning, tidak kemerahan seperti tengkleng yang disajikan di Warung Sate Pak Momo. Cita rasa tengkleng rica-rica tak kalah maknyus. Daging yang menempel pada tulang terasa lembut dan mudah dilepas dari tulang karena Ponijo menggunakan kambing muda dalam masakannya.

            Kambing tersebut dipasok khusus oleh penjual kambing dari daerah Girimarto, Wonogiri. Dalam sebulan, Ponijo mengolah sedikitnya 60 ekor kambing muda yang rata-rata memiliki berat sekitar lima kilogram.

         Ia mengaku menyediakan menu tengkleng yang berbeda dari tengkleng pada umumnya atas inisiatif pribadi. Ia menciptakan menu tersebut pada 1990-an. “Satu porsi tengkleng harganya Rp15.000,” kata Ponijo.

          Salah satu pembeli tengkleng rica-rica, Andi, mengatakan tengkleng bikinan Ponijan sangat enak. Andi yang baru kali pertama menjajal tengkleng gaya beda ini menilai tengkleng Ponijan sangat khas. “Ini rasanya enak sekali. Benar-benar khas rasanya,” kata dia. Andi pun menilai harga Rp15.000 untuk seporsi tengkleng rica-rica sepadan dengan kelezatannya.

    Sumber : http://www.solopos.com/2015/01/18/kuliner-sukoharjo-minim-kuah-tengkleng-sukoharjo-tetap-maknyus-569066

    Makanan tradisional Sukoharjo, di Kecamatan Weru terdapat satu jenis penganan yang menjadi ciri khas.
           SUKOHARJO–Nama penganan tradisional alakathak barang kali masih asing bagi masyarakat Sukoharjo secara umum. Namun, sebenarnya penganan itu merupakan legenda kuliner dari Kecamatan Weru.

           Tidak ada yang mengetahui secara pasti siapa yang kali pertama membuat dan kapan alakathak menjadi bagian dari masyarakat di kecamatan yang berbatasan dengan Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu. Hal yang pasti alakathak hingga kini masih terjaga keautentikkannya berkat tangan-tangan para penjaga tradisi.

           Alakathak terdiri atas tempe olahan berbahan utama koro benguk dan mi yang dibuat dari tepung singkong, masyarakat menyebutnya tepung kanji. Keduanya dibungkus daun jati yang masih hijau. Alakathak dijual di pasar-pasar tradional di Weru dan sekitarnya saban pasaran tertentu (hari berdasar kalender Jawa).

           Alakhatak dapat dijumpai di Pasar Tawangkuno, Tawang, Weru setiap Kliwon dan Pahing, di Pasar Kelir saban Wage dan Legi, Manyaran, Wonogiri pada Pon dan Kliwon, dan Semin, Gunung Kidul pada Pon.

           Pedagang menjualnya dari pagi hingga pukul 10.00 WIB. Biasanya pedagang membuat alakathak sendiri. Berkat tangan-tangan mereka lah penganan itu bisa dinikmati hingga sekarang.

           Salah satu pembuat sekaligus penjual alakathak, Poniyem, 55, saat ditemui Solopos.com saat berjualan di Pasar Tawangkuno, Selasa (26/1/2016), mengatakan dirinya membuat alakathak sejak masih remaja saat dia membantu orang tuanya. Warga Dukuh Karanganyar, Desa Karanganyar, Weru, itu tidak mengetahui kebiasaan membuat alakathak di keluarganya ada sejak kapan. Setahu dia alakathak ada sejak nenek moyang.

           Pembuatan alakathak tidak sesederhana tampilannya. Proses pengolahan tempe alakathak memakan waktu berhari-hari. Pertama koro benguk direbus hingga matang lalu direndam selama tiga hari. Setelah itu benguk dikukus beberapa lama. Selanjutnya benguk ditumbuk hingga halus. Setelah halus dibungkus menggunakan daun jati atau daun pisang dengan ukuran kecil-kecil dibiarkan satu hari.

           “Setelah tempe jadi lalu dimasak. Bumbunya kunir, parutan kelapa, tumbar, kemiri, daun salam, daun jeruk, dan laos. Semua bumbu dimasak menggunakan santan. Setelah mendidih tempe dimasukkan, 15 menit kemudian angkat,” ulas Poniyem.

           Pembuatan mi sebagai bahan tambahan lebih singkat. Pertama tepung kanji dibikin adonan menggunakan air mendidih. Lalu adonan dibuat pipih menggunakan botol atau paralon. Selanjutnya dirajang memanjang dengan lebar sekitar 1 cm. Hasil rajangan lalu direbus hingga mengapung. Setelah itu ditiriskan dan diberi minyak.

           “Alakathak enaknya sama diceplusi [dimakan bersama] cabai. Rp500 sudah dapat sebungkus yang isinya dua buah tempe dan mi. Kalau Rp1.000 tempenye empat buah. Banyak perantauan dari Weru kalau pas pulang kampung langsung memborong. Katanya alakathak ini ngangeni. Waktu merantau lagi mereka membawa sampai ke Kalimantan, Jakarta, Semarang, dan lain-lain,” imbuh Poniyem.

           Pembuat alakathak asal Gaden, Jatingarang, Weru, Ngatiyem, 60, menambahkan alakathak makanan khas Weru. Kalau di wilayah lain ada alakathak dia memastikan penganan itu dari Weru. Menurut penikmat alakathak, Sri Larasati, 45, rasa alakathak bagi orang luar Weru mungkin tidak enak karena belum terbiasa memakannya. Tetapi bagi dia makanan itu selalu membuatnya kangen dan ingin menyantapnya terus.

    Sumber : http://www.solopos.com/2016/01/27/makanan-tradisional-sukoharjo-alakathak-penganan-khas-weru-yang-ngangeni-685115


Top